sawang sinawang
Sawang sinawang, itulah kata yang didengungkan dev, kala aku berusaha membanding2kan kisahku dengan kisah yang lain, hidup itu sawang sinawang, selalu saja kita melihat kelebihan orang lain, tapi terkadang kita tidak melihat ke bawah, kisah yang tak seberuntung kita
Kadang aku iri dengan kisah orang lain, seharusnya aku yang menjalani hidup seperti itu, seharusnya aku mampu seperti itu, kemudian aku tak mau introspeksi diri, yang ada aku menyalahkan orang lain, menyalahkan nasib
“saya adalah orang yang beruntung”, tulisan ini kutemukan di beberapa lembar kertas yang menghiasi kamar budheku, sesaat setelah suaminya meninggal, mungkin beginilah cara dia menguatkan hidup, tak cukup dengan tekad di hati, tapi dia butuh menuliskan di selembar kertas dan di tempel di setiap sudut kamarnya, mungkin hatinya sangat kehilangan, tapi dia beranggapan masih beruntung dengan hidupnya yang sekarang
Perlukah aku melakukan hal yang sedemikan? Menuliskan kata2 penyemangat yang mengingatkan, bahwa aku adalah orang yang beruntung dengan kisah hidup sekarang, kehidupan baru yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, yang jauh dari yang direncakan.
Mencoba menerima itu sangat sulit, berusaha ikhlas itu sulit, pasrah pada apa yang telah digariskan Tuhan itu sulit, maka aku butuh kekuatan untuk meyakinkan bahwa dengan kisahku sekarang, aku benar2 termasuk orang yang beruntung, masih bisa benar di jalan Tuhan
Terkadang sempat terlintas pikiran, lebih baik aku tak mengenal banyak orang, tak ingin tahu kisah tentang mereka, terutama orang2 yang pernah kukenal, agar aku tak bisa lagi membanding2kan, ah! tapi tak bisa, selalau saja kabar itu tersampaikan, dan dengan segera aku membandingkan, ah andai saja….
Saya adalah orang yang beruntung, seharusnya itu terpatri kuat di hati, tak perlulah melongok ke kisah yang lebih tinggi, cukup menerima dengan ikhlas apa yang diberikan Tuhan saat ini